


Dari Langit yang Sama, Lahir Kolaborasi Akademik yang Mendunia untuk Pengembangan Astronomi Islam
Medan — 26 Rabiul Awal 1448 H / 8 September 2026 M — Langit yang sama mempertemukan dua negara serumpun dalam sebuah momentum akademik internasional. Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) bersama Persatuan Juru Falak Syarie (JUFAS) Malaysia sukses menyelenggarakan International Islamic Astronomy Colloquium, Selasa (8/9/2026), di Aula Kampus Pascasarjana UMSU, Jalan Denai, Medan, Sumatera Utara.
Kolokium internasional ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan akademisi, ahli, praktisi, dan pegiat ilmu falak dari Indonesia dan Malaysia untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, gagasan, serta perkembangan riset dalam bidang astronomi Islam atau ilmu falak. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis OIF UMSU dan Program Studi Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) UMSU dalam memperluas jejaring akademik internasional.
Ketika Indonesia dan Malaysia Bertemu Membaca Langit
International Islamic Astronomy Colloquium tidak sekadar menjadi forum seminar internasional. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan intelektual bagi dua tradisi keilmuan yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang berdekatan. Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki khazanah panjang dalam pengembangan ilmu falak. Pertemuan para pegiat falak dari kedua negara membuka peluang untuk saling melihat perkembangan metode observasi, penelitian, penggunaan instrumen, hingga praktik keilmuan yang berkembang di masing-masing negara.
OIF UMSU mencatat bahwa forum ini diarahkan untuk memperkuat pertukaran pengalaman mengenai observasi, penelitian, instrumen, dan pengembangan ilmu falak, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas pada masa mendatang. Dengan demikian, kolokium ini menjadi representasi nyata bagaimana perguruan tinggi dapat menjadikan internasionalisasi sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sekadar agenda seremonial.
Dibuka Pimpinan UMSU, Tegaskan Komitmen Pengembangan Ilmu Falak
Kegiatan internasional tersebut secara resmi dibuka oleh Rektor UMSU, Prof. Dr. Akrim, M.Pd., yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Assoc. Prof. Dr. Faisal, S.H., M.Hum. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Ilmu Falak memperoleh ruang penting dalam ekosistem akademik UMSU. Keberadaan Program Studi Ilmu Falak FAI UMSU yang didukung oleh OIF UMSU menjadi salah satu kekuatan dalam membangun pembelajaran, observasi, penelitian, dan pengembangan astronomi Islam secara lebih terintegrasi.
Dari lingkungan FAI UMSU, kegiatan tersebut dihadiri Ketua Program Studi Ilmu Falak FAI UMSU, Muhammad Hidayat, yang turut menjadi bagian penting dalam forum akademik lintas negara tersebut.
Kehadiran Prodi Ilmu Falak FAI UMSU dalam forum internasional ini memperlihatkan bahwa pengembangan ilmu falak tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui jejaring akademik, diskusi ilmiah, observasi, penelitian, serta interaksi langsung dengan para ahli dari berbagai negara.
Inilah yang menjadikan internasionalisasi memiliki nilai strategis bagi mahasiswa dan sivitas akademika FAI UMSU. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai perkembangan ilmu falak dari literatur, tetapi memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu tersebut dikembangkan dalam konteks akademik dan profesional di negara lain.
JUFAS Malaysia Bawa Perspektif Keilmuan dari Negeri Serumpun
Dari Malaysia, hadir Ketua Delegasi JUFAS sekaligus perwakilan Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Associate Prof. Dr. Mohd Saiful Anwar bin Mohd Nawawi. Kehadiran para ahli tersebut memperkaya perspektif akademik dalam forum dan memperlihatkan bahwa kolaborasi ilmu falak dapat dibangun melalui hubungan antara perguruan tinggi, observatorium, organisasi profesi, serta institusi keagamaan.
Ketua OIF UMSU, Assoc. Prof. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, M.A., menyoroti besarnya khazanah astronomi Melayu yang masih dapat dikaji dan dikembangkan. Harapannya, kekayaan tersebut dapat diangkat melalui kajian, riset, seminar, dan penerbitan ilmiah.
Gagasan tersebut membawa kolokium pada dimensi yang lebih jauh. Pertemuan ilmiah tidak berhenti ketika seminar berakhir, tetapi dapat menjadi titik awal lahirnya riset bersama, pertukaran akademik, publikasi ilmiah, pengembangan instrumen, observasi bersama, hingga penguatan jejaring ilmuwan falak Indonesia–Malaysia. Dengan pendekatan tersebut, internasionalisasi ilmu falak dapat berkembang dari sekadar academic networking menuju academic partnership yang menghasilkan karya dan pengetahuan baru.
OIF UMSU dan Prodi Ilmu Falak FAI UMSU Menuju Panggung Global
Bagi OIF UMSU dan Prodi Ilmu Falak FAI UMSU, terselenggaranya forum ini menjadi momentum untuk terus memperluas cakrawala keilmuan. Bahkan setelah kolokium, delegasi JUFAS Malaysia melanjutkan rangkaian agenda dengan mengunjungi fasilitas OIF UMSU di lantai 7 Gedung Kampus Pascasarjana. Dalam kunjungan tersebut, delegasi diperkenalkan dengan fasilitas, instrumen, dan aktivitas OIF UMSU dalam bidang astronomi dan ilmu falak. Ada pesan simbolik yang kuat dari kolokium ini: Indonesia dan Malaysia mungkin berbeda wilayah administratif, tetapi keduanya berbagi langit yang sama.
Bagi FAI UMSU, perspektif ini memiliki makna penting. Ilmu Falak menjadi ruang perjumpaan antara khazanah keislaman dan perkembangan sains modern, sekaligus menjadi salah satu bidang yang memungkinkan mahasiswa dan akademisi Islam mengambil bagian dalam percakapan ilmiah global. Karena itu, International Islamic Astronomy Colloquium bukan sekadar kegiatan internasional. Ia adalah investasi intelektual untuk membangun generasi falak yang mampu berpikir kritis, melakukan penelitian, menguasai teknologi, memahami khazanah keislaman, dan berkomunikasi dalam jejaring akademik internasional.
FAI UMSU Maju Bersama UMSU, Melejit Bersama Dunia
Terselenggaranya International Islamic Astronomy Colloquium menjadi salah satu bukti bahwa FAI UMSU melalui Prodi Ilmu Falak dan OIF UMSU terus bergerak dari ruang akademik lokal menuju jejaring keilmuan internasional.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat UMSU untuk membangun perguruan tinggi yang unggul, berjejaring luas, dan semakin kuat dalam kerja sama internasional. Bagi FAI UMSU, internasionalisasi bukan sekadar tentang menghadirkan tamu dari luar negeri. Internasionalisasi berarti membuka ruang bagi gagasan untuk bertemu, ilmu untuk dipertukarkan, penelitian untuk dikolaborasikan, dan mahasiswa serta dosen untuk memiliki perspektif yang melampaui batas geografis.
International Islamic Astronomy Colloquium menjadi salah satu langkah nyata menuju cita-cita tersebut. Dari Medan, FAI UMSU bersama OIF UMSU menatap langit dunia. Dari langit yang sama, lahir gagasan untuk mengembangkan ilmu falak bersama. Dari kolaborasi hari ini, dipersiapkan karya-karya akademik untuk masa depan.
